Text to Search... About Author Email address... Submit Name Email Adress Message About Me page ##1## of ##2## Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sept Oct Nov Dec



10/newsticker/News/random

8/bigslider1/

404

Sorry, this page is not avalable
Home

3/block3/BERITA

5/carousel3/HAI LENSA

4/block4/ADVERTORIAL

3/block1/AKHIR PEKAN

5/carousel1/FAKTA UNIK

BERITA TERBARU

Melihat Khasanah Pusaka Banjar di Festival Parang Museum Wasaka Bajarmasin

0

DIJUAL: Berbagai aneka senjata pusaka seperti belati hingga keris dijual di even Festival Parang di Museum Wasaka Banjarmasin - Foto Dok Aboe 


HAIBANJAR.COM, KALSEL- Parang tak hanya di pakai untuk keperluan sehari hari. Parang ternyata juga mempunyai berbagai macam bentuk, filofis, serta sejarah yang mengikutinya.


Hal inilah yang coba di perkenalkan Komunitas Wasi Pusaka Banua (WASAKA) dalam Festival Parang yang diadakan di Museum Wasaka Banjarmasin yang digelar mulai tanggal 22 – 25 Juli 2023 lalu.


Menurut Ketua Pelaksana Festival Parang Haji Rahmadi, kegiatan kali ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap benda-benda pusaka yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).


“Festival ini rutin kami adakan minimal setahun sekali. Kebetulan tema tahun ini parang, ada pun untuk tahun tahun sebelumnya kami pernah mengangkat tema wafak dan rajah,” ungkapnya.


Dalam Festival Parang ini dipamerkan beragam jenis parang. Baik parang untuk keperluan sehari hari, hingga parang yang mempunyai nilai historis yang di gunakan pada saat zaman penjajahan.


“Misalnya yang kami pamerkan diantaranya Parang Kayu Tangi, Parang Bungkul, Patang Lain Antasari hingga Parang Cingkuk,” tambahnya.


BEKERJA: Pandai besi juga turut dihadirkan dalam Festival Parang di Museum Wasaka Banjarmasin - Foto Dok Aboe 


Dalam Festival Parang ini juga dihadirkan pandai besi yang berasal dari daerah Cempaka. Selain itu juga dijual aneka senjata pusaka, mulai jenis belati hingga jenis keris.


Salah satu pandai besi yang mengikuti kegiatan norliansyah mengaku, saat ini orderan pembuatan senjata masih cukup tinggi di Banua.


“Mungkin karena pengaruh orang banjar yang sadar akan menjaga tradisi” bebernya.


Khusus untuk pembuatan parang sendiri, ia mengaku bisa menyelesaikan orderan hingga 4 hari. Harganya pun bervariasi, mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. 


“Saya cuma mengerjakan wasi aja, untuk kumpang dan pegangan biasanya saya suruh ke pengrajin lain” tuturnya.


DIBERSIHKAN: Aneka benda pusaka saat dibersihkan di even Festival Parang di Museum Wasaka Banjarmasin - Foto Dok Aboe


Sementara itu, menurut salah satu pengunjung, Muhammad Shaufani atau yang lebih akrab di sapa Ovan. Acara ini menarik karena selain bisa melihat berbagai macam jenis “wasi”, dirinya juga mengaku tertarik dengan cerita dan sejarah yang terkandung di dunia besi tempo dulu ini.


“Senang saja kalau ke festival ini. Saya juga rutin mengunjunginya setiap tahun,” tukasnya.(aboe/ar)